(Grup BPN Sumber Rohaniawan)BACA SELENGKAPNYA⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯Redaksi.Bentarapatrolinusantar.com
Renungan Pagi – Kamis, 12 Maret 2026
“Kasihilah sesamamu manusia.” — Matius 5:43
Dalam perjalanan hidup, sering kali tanpa sadar hati manusia mulai membandingkan dirinya dengan orang lain. Kita melihat seseorang yang hidupnya tampak lebih berhasil—rumahnya lebih besar, pakaiannya lebih indah, dan kehidupannya tampak penuh kelimpahan. Di saat seperti itu, hati bisa dengan mudah tergoda oleh iri hati atau rasa tidak puas.
Namun Yesus memanggil kita untuk melihat sesama dengan cara yang berbeda. Ia tidak berkata, “Bandingkanlah dirimu dengan sesamamu,” tetapi Ia berkata, “Kasihilah sesamamu.”
Kasih memiliki kuasa untuk memerdekakan hati dari belenggu iri hati. Ketika seseorang belajar mengasihi, ia tidak lagi melihat berkat orang lain sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian dari kebaikan Tuhan yang dinyatakan dalam kehidupan manusia. Hati yang dipenuhi kasih akan belajar bersyukur atas bagian yang Tuhan percayakan kepadanya.
Sebaliknya, ada juga orang yang hidup dalam kelimpahan. Kekayaan, kenyamanan, dan kedudukan kadang tanpa disadari membuat seseorang memandang orang lain lebih rendah. Padahal di hadapan Tuhan, setiap manusia berdiri pada tempat yang sama—sebagai ciptaan yang hidup oleh kasih karunia-Nya.
Alkitab mengingatkan bahwa seluruh umat manusia berasal dari satu sumber yang sama.
“Dari satu orang saja Allah telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi.”
— Kisah Para Rasul 17:26
Karena itu, tidak ada manusia yang lebih berharga dari yang lain. Perbedaan yang kita lihat di dunia hanyalah keadaan yang sementara. Nilai manusia di hadapan Tuhan tidak ditentukan oleh harta, pakaian, atau kedudukan, melainkan oleh kasih karunia-Nya.
Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk memandang sesamanya dengan hati yang penuh kasih—baik kepada mereka yang hidup dalam kelimpahan maupun kepada mereka yang sedang bergumul dalam kekurangan.
Namun mengasihi sesama tidak selalu mudah. Ada kalanya kebaikan kita tidak dihargai. Ada saat di mana kasih kita dibalas dengan sikap dingin, bahkan dengan kata-kata yang melukai hati. Dalam keadaan seperti itu, hati manusia sering bertanya, “Mengapa aku harus terus mengasihi?”
Di sinilah iman diuji.
Kasih yang sejati tidak bergantung pada respons manusia. Kasih sejati lahir dari hati yang ingin menyenangkan Tuhan. Ketika seseorang tetap memilih mengasihi meskipun tidak dihargai, ia sedang meneladani hati Kristus sendiri.
Yesus mengasihi manusia bukan karena manusia selalu setia kepada-Nya, tetapi karena kasih adalah sifat dari hati-Nya. Bahkan ketika Ia menghadapi penolakan, pengkhianatan, dan penderitaan di salib, kasih-Nya tidak pernah berubah.
Itulah kasih yang Tuhan ingin tanamkan dalam hati setiap orang percaya—kasih yang tidak mudah padam, kasih yang tidak berhenti karena kekecewaan, dan kasih yang tetap bertahan meskipun jalannya tidak mudah.
Mungkin hari ini ada seseorang yang sulit kita kasihi. Mungkin ada orang yang pernah melukai hati kita, meremehkan kita, atau tidak menghargai kebaikan kita. Namun Firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap tindakan kasih yang kita lakukan tidak pernah sia-sia.
Walaupun manusia tidak melihatnya, Tuhan melihatnya.
Walaupun manusia menolaknya, Tuhan menerimanya.
Dan setiap langkah kasih yang kita ambil sesungguhnya sedang membawa kita semakin dekat untuk berjalan dalam jejak Kristus.
Karena itu, marilah kita belajar kembali satu hal yang sederhana tetapi sangat dalam:
Kasihilah sesamamu manusia.
Sebab di situlah kasih menjadi nyata, dan di situlah iman orang percaya menunjukkan kedewasaannya.
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
















