Ketika Kebaikan Diuji Dunia

banner 120x600
banner 468x60

 

(Grup BPN,Sumber Pemred PN) BACA SELENGKAPNYA⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯
Bentarapatrolinusantara.com Di zaman ketika ketulusan sering dianggap kelemahan dan kebaikan dipandang sebagai kebodohan, banyak orang mulai bertanya: untuk apa tetap berbuat baik jika dunia justru membalasnya dengan luka?

Realitas hidup memang sering menunjukkan hal yang pahit. Orang yang jujur bisa disingkirkan, orang yang tulus bisa dikhianati, bahkan orang yang berusaha hidup benar kadang justru menjadi sasaran ketidakadilan. Situasi seperti ini membuat banyak hati mulai berubah: dari lembut menjadi keras, dari tulus menjadi penuh curiga.

Namun iman Kristen mengajarkan sesuatu yang berbeda dari cara dunia berpikir.

Alkitab tidak pernah menjanjikan bahwa orang baik akan selalu hidup tanpa masalah. Sebaliknya, Yesus sendiri memperingatkan bahwa kebenaran sering kali menghadapi perlawanan. Tetapi ada satu kepastian yang tidak pernah berubah: Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang hidup dalam kebenaran.

Mazmur 34:20 berkata:

“Kemalangan orang benar banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.”

Ayat ini menunjukkan bahwa penderitaan bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan seseorang. Justru sering kali penderitaan menjadi tempat di mana kesetiaan Allah dinyatakan secara nyata.

Dalam dunia yang dipenuhi kepentingan, kebaikan sering terlihat seperti sesuatu yang rapuh. Tetapi di mata Tuhan, kebaikan yang lahir dari hati yang takut akan Dia adalah kekuatan yang tidak dapat dihancurkan oleh keadaan apa pun.

Rasul Paulus menegaskan dalam Roma 12:21:

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”

Inilah prinsip kerajaan Allah yang berbeda dari hukum dunia. Dunia berkata: balaslah kejahatan dengan kejahatan. Tetapi iman Kristen mengajarkan bahwa kebaikan yang setia akan menjadi saksi bahwa Tuhan sedang bekerja di tengah kehidupan manusia.

Karena itu, ketika seseorang tetap memilih berbuat baik meskipun disakiti, ia sebenarnya sedang menunjukkan kualitas iman yang dewasa. Ia tidak hidup berdasarkan reaksi manusia, tetapi berdasarkan kebenaran firman Tuhan.

Pada akhirnya, sejarah selalu membuktikan satu hal:
orang yang hidup dalam kebenaran mungkin bisa dilukai oleh manusia, tetapi tidak akan pernah ditinggalkan oleh Tuhan.

Sebab bagi mereka yang hidup dalam kasih dan kebenaran, pemeliharaan Allah selalu bekerja dengan cara yang sering kali melampaui logika manusia.

Kebaikan yang lahir dari iman tidak pernah sia-sia.

(Penulis: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *