Iman yang Meneguhkan: Ketika Janji Allah Lebih Nyata dari Keadaan

banner 120x600
banner 468x60

(BPN,Sumber Rohaniawan) Klik ⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯Baca selengkapnya

Redaksi.Bentarapatrolinusantara.com

“Imannya tidak menjadi lemah…”
— Roma 4:20

Di tengah dunia yang mudah goyah oleh keadaan, iman sering kali dipahami hanya sebagai perasaan optimistis atau harapan kosong. Namun Alkitab menunjukkan bahwa iman sejati jauh lebih dalam dari itu.

Secara umum, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), iman diartikan sebagai kepercayaan dan keyakinan yang berkenaan dengan agama; ketetapan hati; serta kepercayaan kepada Tuhan.

Namun dalam terang iman Kristen, pengertian ini diperdalam:
iman bukan sekadar percaya secara intelektual, melainkan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah berdasarkan firman-Nya.

Iman bukan hanya berharap sesuatu terjadi.
Iman adalah respons aktif terhadap janji Allah.

Abraham menjadi contoh nyata. Ia tidak menjadi lemah dalam iman, sekalipun secara manusia tidak ada alasan untuk berharap. Tubuhnya telah tua, situasi tampak mustahil, tetapi ia tetap percaya.

Di sinilah kebenaran teologis yang penting:
iman tidak berdasar pada kemungkinan manusia, tetapi pada karakter Allah.

Allah adalah setia.
Allah tidak berubah.
Allah tidak pernah ingkar terhadap janji-Nya.

Karena itu, iman bukan sekadar berkata, “semuanya akan baik-baik saja,”
melainkan:
“aku percaya karena Allah setia, apa pun yang terjadi.”

Roma 4:20 menunjukkan bahwa iman Abraham justru semakin kuat di tengah ketidakpastian.

Ini menegaskan bahwa:
iman tidak lahir dari kenyamanan, tetapi dimurnikan dalam pergumulan.

Ketika doa belum dijawab,
ketika janji terasa jauh,
ketika keadaan tidak berubah—
di situlah iman bertumbuh.

Kearifan Jawa mengungkapkan dengan sangat dalam:
“Urip iku mung mampir ngombe.”
(Hidup itu hanya singgah untuk minum.)

Sebuah pengingat bahwa hidup ini sementara,
dan karena itu, iman kita tidak boleh ditambatkan pada hal yang fana,
melainkan pada Yang Kekal.

Dan juga:
“Alon-alon waton kelakon.”
(Perlahan tidak apa, asalkan sampai tujuan.)

Iman tidak selalu bergerak cepat,
tetapi iman yang setia akan membawa kita sampai pada penggenapan janji Tuhan.

Dalam perjalanan iman, ada saat di mana kita harus belajar diam, percaya, dan menunggu.

Peribahasa Jawa berkata:
“Meneng, nanging jero.”
(Diam, tetapi dalam.)

Iman yang dewasa tidak selalu terlihat ramai,
tetapi memiliki kedalaman yang kuat di dalam.

Ia tidak mudah goyah oleh suara luar,
karena akarnya sudah tertanam dalam kebenaran.

Alkitab menyatakan bahwa iman Abraham memuliakan Allah.

Sebab iman mengakui bahwa Allah dapat dipercaya sepenuhnya.

Kearifan Jawa kembali menegaskan:
“Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti.”
(Keangkuhan dan kekuatan dunia akan luluh oleh kasih.)

Iman bukan soal kekuatan manusia,
tetapi tentang kasih dan kuasa Allah yang bekerja melampaui segala hal.

Hari ini, pertanyaannya bukan:
seberapa sulit keadaan kita.

Melainkan:
di mana iman kita berakar?

Apakah pada hal yang sementara,
atau pada Yang Kekal?

Firman Tuhan berkata:

“Jika engkau percaya, tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”
— Markus 9:23

Iman bukan membuat hidup tanpa badai,
tetapi membuat kita tetap teguh di tengah badai.

Sebagaimana kearifan Jawa mengingatkan:
“Sing sapa temen, bakal tinemu.”
(Barang siapa bersungguh-sungguh, akan menemukan hasilnya.)

Dan dalam iman:
yang bersungguh-sungguh percaya,
tidak akan pernah sia-sia.

Penulis: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH, S.Th., M.Pd.K
Editor: Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *