Bukan Hanya Yudas: Kita Juga Pernah Meninggalkan Yesus

banner 120x600
banner 468x60

 

Berita,Kita Juga Pernah Meninggalkan Yesus, Baca selengkapnya⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯. Nara sumber, Pemered PN

Bentarapatrolinusantara.com – Ada satu nama yang selalu muncul ketika kita bicara soal pengkhianatan: Yudas. Ia dikenal sepanjang sejarah sebagai murid yang menjual Yesus dengan tiga puluh keping perak. Kisahnya begitu kuat, begitu melekat, sampai-sampai kita sering lupa satu fakta penting dalam Alkitab.

Bahwa pada malam itu… bukan hanya Yudas yang meninggalkan Yesus.

Matius 26:56 mencatat sesuatu yang mengejutkan sekaligus menyakitkan: “Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.” Semua. Bukan sebagian. Bukan satu dua orang. Tetapi semua murid yang sebelumnya berkata siap mati bersama-Nya—justru pergi saat situasi menjadi genting.

Di titik ini, kisah Getsemani berubah dari sekadar cerita tentang Yudas menjadi cermin bagi kita semua.

Karena kalau jujur, kita pun sering ada di posisi itu.

Kita mungkin tidak menjual Yesus dengan uang. Tetapi berapa kali kita “menjual” kebenaran demi kenyamanan? Berapa kali kita tahu apa yang benar, tetapi memilih diam? Berapa kali kita mengaku percaya, tetapi hidup seolah-olah Tuhan tidak penting dalam keputusan kita?

Pengkhianatan tidak selalu berbentuk dramatis. Kadang ia hadir dalam hal-hal kecil: mengabaikan suara hati, menunda ketaatan, memilih dosa yang “terlihat aman”, atau sekadar menjauh perlahan dari Tuhan tanpa merasa bersalah.

Inilah wajah pengkhianatan modern—halus, tidak terasa, tetapi nyata.

Namun kabar baiknya, Injil tidak berhenti pada kegagalan manusia.

Perbedaan terbesar antara Yudas dan murid-murid lainnya bukan pada kesalahan mereka, tetapi pada langkah setelah jatuh. Yudas memilih berhenti. Ia tenggelam dalam penyesalan tanpa harapan. Tetapi murid-murid yang lain—yang juga lari—dipulihkan. Mereka kembali. Mereka diubahkan. Bahkan mereka dipakai Tuhan secara luar biasa.

Di sinilah letak kekuatan Injil:
Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi orang yang mau kembali.

Kegagalan bukan akhir. Pengkhianatan bukan penutup cerita. Selama masih ada kerendahan hati untuk bertobat, selalu ada jalan untuk dipulihkan.

Mungkin hari ini kita sedang berada di posisi yang sama—merasa jauh dari Tuhan, merasa tidak layak, merasa sudah terlalu banyak gagal.

Tetapi ingat satu hal ini:

Yesus tidak pernah menolak orang yang kembali kepada-Nya.

Bahkan setelah murid-murid meninggalkan Dia, Yesus tetap datang kembali kepada mereka setelah kebangkitan-Nya. Ia tidak membalas dengan penolakan, tetapi dengan pemulihan.

Itulah kasih yang tidak dimengerti dunia.

Jadi pertanyaannya bukan lagi: “Apakah kita pernah mengkhianati Tuhan?”
Tetapi: “Apakah kita mau kembali kepada-Nya?”

Karena pada akhirnya, iman bukan tentang tidak pernah jatuh—
melainkan tentang selalu memilih untuk bangkit dan kembali kepada Tuhan.

Kita mungkin pernah meninggalkan Yesus, tetapi Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Penulis: Ev. Kefas Hervin Devananda, SH., S.Th., M.Pd.K
(Jurnalis, Penggiat Budaya, Aktivis, serta Pelayan Penginjilan di salah satu sinode gereja di Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *