
Artikel rohani, Nara sumber Tokoh Rohaniawan,Baca selengkapnya⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯 Redaksi. Bentarapatrolinusantara.com
Yohanes 19:28–37
Peristiwa salib sering dipandang sebagai kisah penderitaan yang menyayat hati. Namun di balik itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam—sebuah jawaban ilahi atas persoalan terbesar manusia: dosa. Yohanes 19:28–37 mengajak kita melihat bahwa kematian Yesus bukan sekadar akhir tragis, melainkan bagian dari rencana keselamatan yang telah disiapkan sejak semula.
Yesus disebut sebagai Anak Domba Allah, sebuah gelar yang tidak muncul tanpa alasan. Dalam tradisi Israel, anak domba Paskah adalah lambang pembebasan dan perlindungan. Darahnya menjadi tanda keselamatan. Kini, melalui salib, simbol itu menjadi nyata. Yesus bukan hanya menggambarkan, tetapi menggenapi peran tersebut secara sempurna.
Yang menarik, setiap detail dalam kisah penyaliban mengandung makna teologis yang kuat. Ketika Yesus berkata “Aku haus” dan diberikan anggur asam dengan hisop, kita melihat keterhubungan langsung dengan tradisi Paskah. Hisop bukan sekadar alat, melainkan simbol penyucian dan penebusan.
Waktu kematian Yesus yang terjadi pada saat penyembelihan anak domba Paskah memperlihatkan sinkronisasi ilahi yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Ini menegaskan bahwa kematian-Nya adalah pengorbanan yang dirancang, bukan kecelakaan sejarah.
Bahkan keputusan untuk tidak mematahkan kaki-Nya menunjukkan bahwa Ia adalah korban yang sempurna, sesuai dengan ketentuan hukum Taurat. Kesempurnaan ini menjadi syarat penting dalam pengorbanan yang membawa penebusan.
Ketika lambung-Nya ditusuk dan darah serta air mengalir, itu menjadi bukti bahwa Ia benar-benar mati. Namun lebih dari sekadar bukti fisik, itu juga menjadi simbol kehidupan yang mengalir bagi umat manusia—kehidupan yang lahir dari pengorbanan.
Salib adalah tempat di mana kasih Allah dinyatakan secara total. Tidak ada yang ditahan, tidak ada yang disisakan. Semua diberikan demi manusia. Ini bukan hanya cerita masa lalu, tetapi undangan bagi setiap orang untuk mengalami kasih yang sama hari ini.
Melalui kematian Yesus, kita tidak hanya diampuni, tetapi juga dipulihkan. Hubungan yang rusak dipulihkan, harapan yang hilang dikembalikan, dan hidup yang kosong diisi dengan makna baru.
Pada akhirnya, salib menuntut respon. Ia berbicara kepada hati setiap orang: apakah kita mau menerima kasih itu, atau tetap berjalan dalam cara kita sendiri?
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


















