Setia dalam Sunyi, Hidup dalam Makna Salib

banner 120x600
banner 468x60

 

Setia dalam Sunyi, Hidup dalam Makna Salib. Baca selengkapnya⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯

Redaksi.Bentarapatrolinusantara.com

Yohanes 19:38–42

Dalam tradisi Nusantara, kita mengenal nilai eling lan waspada—hidup dengan kesadaran dan kepekaan, terutama dalam momen-momen hening. Ada kebijaksanaan yang lahir bukan dari keramaian, melainkan dari keheningan.

Demikian pula kisah di Golgota.

Setelah teriakan mereda dan langit kembali tenang, tersisalah tubuh Yesus yang tergantung di kayu salib. Dunia menganggap semuanya telah selesai. Harapan tampak terkubur bersama Dia.

Namun Injil Yohanes mencatat sesuatu yang sangat penting—
di tengah keheningan itu, iman justru bekerja.

Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus datang.
Bukan sebagai penonton, tetapi sebagai murid yang bertindak.

Iman yang Bertumbuh dalam Keheningan

Dalam konteks iman Kristen, tindakan mereka bukan sekadar penghormatan budaya. Ini adalah wujud iman yang lahir dari pengenalan akan Kristus.

Yusuf berani meminta tubuh Yesus kepada Pilatus.
Nikodemus membawa persembahan yang mahal.

Ini bukan tindakan emosional sesaat, tetapi keputusan iman.

Di sinilah kita melihat kebenaran teologis yang penting:
iman sejati selalu berbuah dalam tindakan nyata (Yakobus 2:17).

Dalam budaya Nusantara, tindakan hormat kepada yang telah meninggal adalah bentuk kasih yang mendalam. Namun dalam terang Injil, tindakan ini melampaui tradisi—ini adalah pengakuan bahwa Yesus bukan sekadar manusia biasa, melainkan Tuhan yang layak dihormati bahkan dalam kematian-Nya.

Salib: Bukan Akhir, Tetapi Jalan Penebusan

Teologi salib mengajarkan bahwa kematian Kristus bukanlah kekalahan, melainkan penggenapan rencana Allah.

Yesus mati untuk menanggung dosa manusia (Yesaya 53:5).
Penguburan-Nya menegaskan bahwa Ia sungguh-sungguh mati.
Dan dari sana, kebangkitan menjadi nyata.

Dalam konteks ini, tindakan Yusuf dan Nikodemus menjadi bagian dari karya Allah yang lebih besar—tanpa mereka sadari, mereka sedang menggenapi nubuat (Yesaya 53:9).

Ini mengajarkan kita bahwa:
kesetiaan kecil kita dapat dipakai Tuhan dalam rencana besar-Nya.

Belajar dari Kearifan Lokal: “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe”

Pepatah Jawa berkata:
“Sepi ing pamrih, rame ing gawe.”

Artinya, bekerja dengan tulus tanpa mencari pujian.

Nilai ini sejalan dengan ajaran Kristus tentang kerendahan hati dan ketulusan (Matius 6:1-4).

Yusuf dan Nikodemus tidak mencari pengakuan.
Mereka tidak tampil di depan umum.
Mereka hanya melakukan apa yang benar—di hadapan Tuhan.

Dalam kekristenan Nusantara, iman tidak hanya dinyatakan dalam ibadah, tetapi juga dalam laku hidup sehari-hari:
mengasihi, menghormati, dan setia—bahkan saat tidak dilihat.

Kesetiaan yang Lahir dari Relasi, Bukan Situasi

Banyak orang setia ketika keadaan mendukung.
Namun Yusuf dan Nikodemus menunjukkan kesetiaan yang berbeda—
kesetiaan yang lahir dari relasi dengan Kristus, bukan dari situasi.

Mereka tetap bertindak meskipun:

Yesus sudah mati
Harapan tampak hilang
Risiko sosial sangat besar

Inilah gambaran murid sejati:
setia bukan karena situasi baik, tetapi karena mengenal Tuhan dengan benar.

Refleksi Iman bagi Kita

Dalam kehidupan kita hari ini, kita sering diperhadapkan pada pilihan:
apakah kita tetap setia saat tidak ada sorotan?

Apakah kita tetap hidup benar saat tidak ada yang melihat?

Firman Tuhan mengingatkan:
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan” (Kolose 3:23).

Dan dalam kearifan lokal kita:
“Gusti ora sare.”
Tuhan tidak pernah tidur.

Ia melihat setiap tindakan kita.
Ia mengenal hati kita.
Ia menghargai kesetiaan kita.

Iman yang Membumi dan Mengakar

Kisah ini mengajarkan bahwa iman Kristen bukan hanya doktrin, tetapi juga kehidupan yang nyata.

Iman yang benar:

berakar pada kebenaran firman Tuhan
dinyatakan dalam tindakan
dan tetap setia dalam segala situasi

Dalam konteks Nusantara, iman itu menjadi hidup ketika ia membumi—
menghargai nilai, tetapi tetap berpusat pada Kristus.

Karena pada akhirnya,
kesetiaan yang lahir dari kasih kepada Kristus tidak akan pernah sia-sia.

Pokok Doa:
Tuhan, ajar kami untuk setia bukan karena dilihat, tetapi karena mengasihi-Mu dengan sungguh.

Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *