(Grup BPN) BACA SELENGKAPNYA⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯
Jejak Misi DG Tantu Sejak 1989
TAkalar – Bentarapatrolinusantara.com – Sejak subuh, aroma kue buroncong sudah tercium di Pasar Sentral Pattallassang, Kabupaten Takalar. Di antara hiruk-pikuk pedagang dan pembeli, sebuah gerobak sederhana tampak setia menempati sudut pasar. Dari sanalah Misi DG Tantu, warga Kampung Salaka, Pattallassang, memulai harinya—menjajakan kue buroncong yang telah ia tekuni puluhan tahun.
Kue buroncong merupakan kue tradisional khas Makassar, Sulawesi Selatan. Terbuat dari bahan sederhana—tepung terigu atau tepung beras, kelapa parut, dan santan—kue ini memiliki cita rasa gurih dan manis dengan tekstur empuk. Dipanggang langsung di cetakan khusus, buroncong paling nikmat disantap hangat, terutama di pagi hari.
Di gerobaknya, Misi DG Tantu membawa perlengkapan lengkap untuk membuat buroncong secara langsung. Adonan dituangkan, cetakan ditutup, dan tak lama kemudian aroma santan dan kelapa yang matang perlahan memikat siapa pun yang melintas. Rutinitas itu telah ia jalani sejak tahun 1989.
Perjalanan berjualannya pun tidak singkat. Awalnya, Misi DG Tantu berjualan kue buroncong di Kota Makassar. Seiring waktu dan perubahan keadaan, ia memilih menetap dan berjualan di Pasar Sentral Pattallassang hingga sekarang. Lebih dari tiga dekade, buroncong menjadi saksi perjalanan hidupnya.
“Alhamdulillah,” ucapnya singkat, dengan wajah penuh syukur. Setiap hari, dagangannya hampir selalu habis terjual. Hasilnya cukup untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, sebuah rezeki yang ia terima dengan rasa terima kasih.
Waktu pun mengubah banyak hal. Jika pada tahun 1989 satu buah kue buroncong dijual seharga 25 rupiah, kini harganya telah menjadi Rp5.000 per buah. Meski demikian, minat masyarakat tidak pernah surut. Buroncong tetap dicari, bukan hanya karena rasanya, tetapi juga karena nilai tradisi yang melekat di dalamnya.
Di Pasar Pattallassang, kue buroncong bukan sekadar jajanan. Ia adalah cerita tentang ketekunan, kesabaran, dan perjuangan hidup. Dan Misi DG Tantu, dengan gerobak sederhananya, terus menjaga rasa dan tradisi itu sejak 1989.
















