Jalan Menuju Kerajaan Allah Tidak Pernah Tanpa Luka

banner 120x600
banner 468x60

(Grup BPN, Menuju Kerajaan Allah)BACA SELENGKAPNYA⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯Redaksi. Bentarapatrolinusantara.co

FiladelfiaNews.com – Di zaman yang serba cepat dan penuh dengan janji kemudahan, banyak orang berharap bahwa iman kepada Tuhan akan membawa kehidupan yang selalu nyaman dan bebas dari penderitaan. Seolah-olah ketika seseorang menjadi orang percaya, semua masalah hidup akan sirna, dan jalan kehidupan akan selalu dipenuhi kemudahan.

Namun kenyataan iman yang diajarkan Alkitab justru sangat berbeda.

Rasul Paulus dengan tegas mengatakan:

“Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.”
(Kisah Para Rasul 14:22)

Kalimat ini mungkin terdengar keras, bahkan tidak populer di tengah dunia yang sering mencari kenyamanan. Tetapi justru di dalam kalimat inilah terdapat salah satu kebenaran paling jujur tentang perjalanan iman.

Menjadi pengikut Kristus tidak berarti terbebas dari ujian hidup.

Sejak awal sejarah iman, umat Tuhan tidak pernah dipanggil untuk berjalan di jalan yang bebas dari penderitaan. Justru sebaliknya, banyak dari mereka dibentuk dan dimurnikan melalui berbagai pergumulan.

Lihatlah kehidupan Ayub yang harus kehilangan hampir segalanya sebelum akhirnya menyaksikan pemulihan dari Tuhan.

Perhatikan Abraham yang harus melewati berbagai ujian iman sebelum ia disebut sebagai bapa orang beriman.

Para nabi dalam Perjanjian Lama sering menghadapi penolakan, ancaman, bahkan penganiayaan karena kesetiaan mereka kepada Tuhan.

Demikian pula para rasul dan martir dalam sejarah gereja. Banyak dari mereka harus menanggung penderitaan, bahkan kehilangan nyawa mereka karena iman kepada Kristus.

Sejarah iman menunjukkan satu kenyataan yang tidak bisa dihindari:
jalan menuju kemuliaan sering kali melewati lembah penderitaan.

Namun ada satu penghiburan besar bagi setiap orang percaya.

Kita tidak berjalan di jalan itu sendirian.

Tuhan Yesus sendiri telah lebih dahulu melewati jalan penderitaan itu. Ia mengalami penolakan, penghinaan, penderitaan, bahkan kematian di kayu salib sebelum akhirnya dimuliakan.

Karena itu, setiap penderitaan yang dialami oleh orang percaya tidak pernah berada di luar pengetahuan dan kasih Tuhan.

Ia memahami setiap air mata.
Ia mengerti setiap luka hati.
Ia hadir di tengah setiap pergumulan hidup.

Kesengsaraan bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita.

Sebaliknya, sering kali justru melalui kesulitan hidup Tuhan membentuk iman, memurnikan hati, dan mendewasakan kehidupan rohani seseorang.

Sebab iman yang sejati tidak lahir dari kehidupan yang selalu nyaman.

Iman yang kuat sering kali dibentuk di tengah pergumulan.

Rasul Paulus bahkan mengingatkan bahwa penderitaan zaman sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada orang-orang percaya.

“Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.”
(Roma 8:18)

Karena itu bagi setiap orang percaya, penderitaan bukanlah akhir dari perjalanan iman.

Penderitaan hanyalah bagian dari proses menuju kemuliaan yang telah Tuhan sediakan.

Salib mungkin berat untuk dipikul, tetapi bagi mereka yang setia, Tuhan telah menyiapkan mahkota kehidupan.

Dan pada akhirnya, setiap air mata yang pernah jatuh dalam perjalanan iman akan diganti dengan sukacita yang kekal di dalam Kerajaan Allah.

Ev. Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas) S.H., S.Th., M.Pd.K

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *