Tajamkan Pena, Tajamkan Iman

banner 120x600
banner 468x60

(Grup BPN,Sumber)BACA SELENGKAPNYA⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯Redaksi. Bentarapatrolinusantara.com

“Jadi semua orang Israel harus pergi kepada orang Filistin untuk mengasah mata bajaknya, beliungnya, kapaknya atau aritnya masing-masing.”
(1 Samuel 13:20)

Sebagai seorang jurnalis, saya memahami satu hal sederhana: alat yang tumpul menghasilkan karya yang lemah. Pena yang tumpul membuat tulisan kabur. Analisis yang tumpul melahirkan narasi yang dangkal. Ketajaman adalah segalanya.

Ketika membaca 1 Samuel 13:20, saya tidak hanya melihat kisah sejarah tentang Israel dan Filistin. Saya melihat refleksi kondisi zaman ini—termasuk dunia media.

Israel harus pergi kepada musuh untuk mengasah alatnya. Itu ironi yang menyakitkan. Umat Tuhan bergantung pada sistem yang tidak memihak kepada mereka. Secara rohani, ini adalah gambaran ketika umat kehilangan ketajaman internal dan akhirnya mencari standar dari luar.

Dalam dunia jurnalistik hari ini, tekanan itu nyata. Ada tekanan algoritma, tekanan klik, tekanan opini publik, tekanan kepentingan ekonomi dan politik. Jika tidak hati-hati, seorang jurnalis bisa “pergi ke Filistin” untuk mengasah penanya—menjadikan sensasi sebagai standar, viralitas sebagai ukuran kebenaran, dan kecepatan sebagai pengganti ketepatan.

Padahal ketajaman sejati bukan sekadar cepat, tetapi akurat.
Bukan sekadar keras, tetapi benar.

Demikian pula dalam kehidupan rohani. Kita hidup di era informasi berlimpah, tetapi kebenaran sering kali kabur. Banyak suara, sedikit kejelasan. Banyak opini, minim hikmat. Jika iman tidak diasah, kita mudah terseret arus.

Israel tetap memiliki alat—bajak, kapak, arit. Kita pun memiliki alat: Alkitab, nurani, komunitas iman, kesempatan bersuara. Tetapi alat tanpa ketajaman tidak efektif.

Sebagai jurnalis, saya tahu bahwa ketajaman lahir dari disiplin: riset yang teliti, verifikasi yang jujur, dan keberanian menyampaikan fakta meski tidak populer. Secara rohani, ketajaman juga lahir dari disiplin: doa yang sungguh, firman yang direnungkan, karakter yang dibentuk.

Zaman sekarang adalah zaman yang bising. Kebenaran sering dipelintir. Isu dibangun untuk kepentingan tertentu. Polarisasi meruncing. Dalam situasi seperti ini, gereja dan orang percaya dipanggil untuk tetap tajam—bukan provokatif, tetapi jernih.

Jurnalisme yang sehat mencari terang, bukan sensasi.
Iman yang sehat mencari kebenaran, bukan kenyamanan.

Ayat ini juga menyebut alat kerja, bukan senjata perang. Artinya, kehidupan sehari-hari—pekerjaan, tulisan, interaksi sosial—itulah ladang peperangan rohani kita. Pena bisa menjadi bajak yang membajak hati pembaca. Kata-kata bisa menjadi kapak yang menebas kebohongan. Analisis yang jujur bisa menjadi arit yang menuai kesadaran publik.

Namun semua itu hanya mungkin jika kita tajam.

Masalah terbesar zaman ini bukan kurangnya alat, tetapi tumpulnya integritas. Kita bisa memiliki platform besar, tetapi tanpa karakter, semuanya kosong. Kita bisa memiliki suara keras, tetapi tanpa kebenaran, itu hanya gema.

Sebagai jurnalis dan sebagai orang percaya, saya belajar bahwa ketajaman tidak datang dari mengikuti arus, tetapi dari berdiri di atas kebenaran. Tidak selalu mudah. Tidak selalu menguntungkan. Tetapi selalu benar.

Renungan hari ini sederhana dan tegas:
Jangan biarkan pena menjadi tumpul oleh kompromi.
Jangan biarkan iman menjadi tumpul oleh kenyamanan.

Tajamkan pikiran dengan firman.
Tajamkan hati dengan doa.
Tajamkan keberanian dengan kebenaran.

Karena di tengah zaman yang penuh manipulasi dan kebisingan, Tuhan tetap mencari suara yang jernih—pena yang tajam—dan hati yang setia.

Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *