
Artikel rohani nara sumber Pemred PN,Baca selengkapnya⤵️⤵️⤵️⤵️⤵️🇮🇩✍️✍️✍️💯
Bentarapatrolinusantara.com – Renungan Pagi – Rabu, 1 April 2026
Kidung Agung 1:2
“Kiranya ia mencium aku dengan kecupan!”
Ayat ini bukan sekadar ungkapan romantis dalam puisi kuno. Ini adalah bahasa kerinduan—kerinduan yang lahir dari hati yang pernah mengalami kasih, dan kini tidak ingin hidup tanpa kehadiran-Nya.
Namun di tengah kehidupan modern orang percaya, ada satu gejala yang sering tidak disadari: Tuhan tidak ditolak, tetapi juga tidak lagi sungguh-sungguh dicari.
Tidak ada pemberontakan.
Tidak ada penolakan.
Tetapi juga tidak ada kerinduan.
Inilah kondisi paling berbahaya dalam kehidupan rohani—bukan ketika seseorang jauh, tetapi ketika ia merasa cukup dekat, padahal hatinya sebenarnya sudah dingin.
Mempelai dalam Kidung Agung memberikan kontras yang tajam. Ia tidak puas dengan pengetahuan tentang kekasihnya. Ia tidak berhenti pada status hubungan. Ia menginginkan pengalaman—perjumpaan yang nyata.
Ia tidak hanya ingin tahu bahwa ia dikasihi.
Ia ingin merasakan kasih itu.
Dalam terang teologi yang benar, kerinduan ini bukan sekadar emosi. Ini adalah respons dari hati yang telah disentuh oleh anugerah. Tidak mungkin seseorang sungguh mengenal Kristus tetapi tidak memiliki kerinduan untuk dekat dengan-Nya.
Masalahnya, banyak orang percaya hari ini berhenti pada titik aman:
mereka diselamatkan, tetapi tidak bertumbuh.
mereka percaya, tetapi tidak mengejar.
mereka mengenal Tuhan, tetapi tidak lagi mencari hadirat-Nya.
Kata “ciuman” dalam teks ini menggambarkan kedekatan relasi—sebuah simbol dari persekutuan yang hidup antara Kristus dan umat-Nya.
Ini berbicara tentang pengalaman iman yang nyata:
ketika firman menyentuh, bukan hanya didengar.
ketika doa menjadi perjumpaan, bukan sekadar rutinitas.
ketika Tuhan terasa dekat, bukan sekadar diyakini ada.
Namun harus ditegaskan, pengalaman ini tidak berdiri di atas perasaan semata. Ia berakar pada karya keselamatan yang dikerjakan Kristus dan dimeteraikan oleh Roh Kudus.
Tanpa dasar itu, keintiman berubah menjadi ilusi.
Tetapi tanpa keintiman, iman berubah menjadi kering.
Keseimbangan inilah yang sering hilang.
Banyak yang menjaga doktrin, tetapi kehilangan api.
Banyak yang mengejar pengalaman, tetapi meninggalkan kebenaran.
Padahal iman yang sehat adalah iman yang benar sekaligus hidup.
Hari ini, mungkin tidak ada dosa besar yang terlihat.
Tidak ada kegagalan yang mencolok.
Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih dalam dari semua itu:
Apakah Tuhan masih menjadi yang paling kita rindukan?
Atau kita sudah menggantikan-Nya dengan kesibukan, pelayanan, bahkan aktivitas rohani itu sendiri?
Di sinilah renungan ini menjadi cermin.
Karena Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk percaya kepada-Nya, tetapi untuk hidup bersama-Nya.
Bukan sekadar mengenal nama-Nya, tetapi berjalan dalam hadirat-Nya.
Jika hari ini hati terasa biasa saja, itu bukan akhir.
Justru itu adalah panggilan untuk kembali.
Kembali mencari.
Kembali merindukan.
Kembali mendekat.
Karena iman yang sejati tidak pernah puas berada jauh.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.


















